Monday, December 24, 2012

Bunga Bangkai Raksasa Mekar Sempurna


Bunga bangkai raksasa (Amorphophallus titanum) yang muncul di lingkungan Taman Hutan Raya Djuanda, Bandung, Jawa Barat, sudah mekar sempurna pada hari Sabtu (15/12/2012). 

Peristiwa itu terjadi bertepatan di akhir pekan, sehingga menarik perhatian pengunjung Tahura, yang biasanya ramai pada hari Sabtu dan Minggu.Menurut Kepala Seksi Konservasi Balai Pengelolaan Tahura Djuanda, Tata Kalsa, proses mekarnya bunga bangkai itu dimulai sehari sebelumnya, Jumat lalu pukul 11.00, dan benar-benar mekar sempurna pada petang harinya, pukul 18.00.Tinggi tongkol mahkota bunga yang berwarna kuning muda itu 193 sentimeter (cm), dan diameter mahkotanya 86,6 cm.Tanaman ini diambil dari Bengkulu tahun 2006 dari Cagar Alam Taba Penanjung, dan kemudian ditanam di Tahura Djuanda sebanyak empat umbi pada Januari 2007.Dari empat umbi itu, yang sudah berbunga baru tiga umbi. Proses berbunga sebelumnya terjadi pada tahun 2010 (tanaman yang berbeda). Lama mekar biasanya hanya empat hari, setelah itu bunga akan layu.Proses berbunga lagi diperkirakan empat atau lima tahun lagi. "Jadi ini memang peristiwa langka, sebab tanaman ini akan berbunga lagi sekitar tahun 2017," kata Tata.Rencananya, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan hari ini akan meninjau Tahura Djuanda untuk menyaksikan bunga bangkai raksasa tersebut."Senang sekali saya. Kebetulan hari ini ke sini, dan bunga bangkai ini pas mekar. Sebelumnya saya belum pernah melihat yang seperti ini," ungkap Gita Anisa, siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) At-Tauhid Kota Bandung.Sejumlah pengunjung yang kebanyakan dari kalangan pelajar banyak yang penasaran, kemudian mereka dengan kamera saling mengambil gambar di dekat bunga tersebut.Sekretaris Dinas Kehutanan Provinsi Jabar Toyibat yang kemarin mengunjungi lokasi itu berharap, momentum ini bisa membuat Tahura makin dikenal masyarakat. Bukan saja sebagai tempat konservasi alam, melainkan juga sebagai obyek wisata alam yang menarik, teduh, dan hijau

Sumber : Kompas.Com

Cara Burung Jantan Bohong Untuk Memikat Pasangannya

Sama seperti para pria yang berupaya tampil maksimal saat mereka sedang berupaya merebut hati calon pasangannya, burung-burung jantan juga melakukan hal yang serupa. Sebagai contoh, Zebra Finch (Taeniopygia guttata) menggunakan nyanyian untuk membohongi burung betina yang baru mereka temui dengan berpura-pura bahwa mereka berada dalam kondisi fisik yang sempurna. 

Burung-burung ini bertingkah seolah-olah mereka lebih sehat dibanding sebenarnya di hadapan betina yang baru dikenal. Namun, kepada pasangannya sendiri, yang sudah mampu membedakan kondisi fisik sebenarnya dari burung jantan yang bersangkutan dari suara nyanyian mereka, para pejantan ini tidak lagi berpura-pura.

Sasha Dall, peneliti dari University of Exeter, Inggris, menyebutkan, bernyanyi merupakan metode ujian yang sangat handal untuk mengetahui kondisi para burung karena aktivitas tersebut membutuhkan banyak energi. Burung jantan yang sehat dan kuat diketahui mampu bernyanyi dengan suara yang lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Inilah yang membuat para burung betina tertarik. 

Dalam studinya, Dall dan timnya serta peneliti dari Universite de Bourgogne, Prancis mengamati 91 ekor burung Zebra Finch jantan dan 91 betina dalam sebuah koloni dari kawasan Prancis dan 12 pasang Zebra Finch dari kawasan Inggris. Kondisi fisik tiap-tiap burung mereka catat. 

Peneliti kemudian membuat video rekaman saat burung jantan dan betina saling berjumpa, baik untuk durasi pertemuan yang sebentar ataupun dalam durasi cukup lama. Peneliti lalu membandingkan pula situasi jika para burung jantan dan betina saling bertemu dengan pasangan yang sudah dikenal ataupun dengan pasangan yang belum mengenal satu sama lain.

Mereka juga memonitor dan memantau apakah para burung menunjukkan tanda-tanda saling tertarik dan melanjutkan ke tahapan berikutnya, yakni berketurunan.

Ternyata, diketahui bahwa tidak ada beda antara nyanyian burung jantan jika bertemu dengan burung betina yang baru mereka jumpai baik dalam durasi singkat ataupun lama.  Burung jantan yang dalam kondisi tidak sehat akan coba “menipu” calon pasangan dengan menggunakan berbagai variasi nyanyian agar memberikan kesan yang baik di mata para betina yang baru mereka temui.

Tetapi, saat burung jantan itu berada di dekat pasangan hidupnya, burung jantan yang dalam kondisi sehat bernyanyi dalam nada yang lebih tinggi dibandingkan dengan burung jantan yang dalam kondisi tidak fit. Burung jantan yang dalam kondisi buruk tidak berupaya bernyanyi dengan lebih indah bagi pasangan hidupnya.

“Ini merupakan penelitian pertama yang menemukan bukti bahwa ada hubungan antara kondisi tubuh pejantan dan perbedaan nyanyian saat mereka bertemu dengan burung betina,” kata Morgan David, ketua tim peneliti yang melaporkan temuan itu di jurnal Proceedings of the Royal Society B


Sumber : Kompas.Com

Penemuan Spesies Jamur Bercahaya di Borneo


Ahli jamur asal Belanda menemukan dua spesies jamur yang mampu menghasilkan cahaya dalam ekspedisinya ke Borneo. Salah satu spesies jamur itu diduga spesies baru.

"Jamur ini menghasilkan cahaya langka tetapi eksis di belahan dunia tertentu. Fenomena ini disebut bioluminesens dan hanya bisa dilihat di daerah yang gelap di dalam hutan," ungkap Luis Morgardo dari Leiden University, salah satu ilmuwan yang terlibat penemuan, dalam tulisannya di Naturalist Biodiversity Center, Selasa (25/9/2012).

Untuk menemukan spesies tersebut, Morgardo bekerja bersama ilmuwan lain, termasuk Jozsef Geml, asisten profesor di Leiden University, dan peneliti di Herbarium Nasional Belanda, yang menjadi pengawasnya. Mereka menjelajahi ekosistem di Gunung Kinabalu, wilayah Borneo di Malaysia. Ekspedisi untuk menemukan jamur ini harus dilakukan pada malam hari.

"Di siang hari, satu spesies mungkin dijumpai dan difoto tanpa tahu bahwa spesies itu termasuk bioluminesens. Hanya ekspedisi pada malam hari yang bisa mengungkap fenomena yang tersembunyi di siang hari ini," papar Morgardo.

Morgardo menambahkan bahwa untuk menemukan spesies eksotik, ekspedisi malam hari memang harus dilakukan. Jika hanya menuruti kebiasaan, pergi pagi dan pulang sebelum matahari tenggelam, Morgardo mengatakan, "Anda berisiko untuk melewatkan penemuan berharga."

Menurut Morgardo, bioluminesens pada jamur merupakan hasil dari proses oksidasi dan belum didokumentasikan dengan baik. Bioluminesens merupakan strategi jamur untuk menarik serangga sehingga dapat menyebarkan sporanya. Di hutan hujan tropis yang minim angin untuk menyebarkan spora, serangga sangat berharga.

Selain menemukan jamur bercahaya ini, tim peneliti asal Belanda yang juga disertai peneliti Malaysia pun mengoleksi 3.500 sampel DNA dari 1.400 spesies tumbuhan, hewan, dan jamur. Dari analisis sampel, terungkap setidaknya 160 spesies yang belum dikenal.

Diberitakan Livescience, Kamis (4/10/2012), peneliti lain yang ikut serta dalam ekspedisi, Hans Feijen, menemukan lalat yang matanya memiliki semacam tangkai untuk menarik betina. Lalat itu dinyatakan bisa hidup hingga 1,5 tahun, usia yang sangat panjang bagi golongan serangga.

Rachel Schwallier, peneliti lain, juga menemukan kantong semar jenis Nepenthes lowii di tempat yang belum didokumentasikan sebagai habitat spesies itu. Seluruh penemuan baru akan dipublikasikan tahun depan.

Sumber : Kompas.Com

Wajah Bumi Dilihat dari Antariksa Pada Malam Hari


Bumi acapkali disebut Planet Biru karena citranya yang tampak biru saat diambil pada siang hari. Tapi, apakah Bumi juga biru pada malam hari?

Citra terbaru yang dirilis National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menunjukkan bahwa setelah Matahari tenggelam, bila dilihat dari antariksa, Bumi lebih menyerupai kelereng hitam dengan hiasan glitter keemasan.

Citra yang diambil dengan instrumen di satelit Suomi NPP tersebut dirilis di ajang American Geophysical Union yang diadakan di San Francisco, Selasa (4/12/2012).

"Untuk alasan yang sama dengan kita harus melihat Bumi di siang hari, kita juga harus melihat Bumi pada malam hari. Tak seperti manusia, Bumi tak pernah tidur," kata Steve Miller dari NOAA seperti dikutip Space, Rabu (5/12/2012).

Instrumen yang digunakan untuk menghasilkan citra Bumi kali ini disebut Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS). Instrumen ini sebenarnya berfungsi menangkap data awan, salju, dan formasi es di malam hari.

VIIRS begitu sensitif sehingga cahaya yang dihasilkan oleh lampu-lampu di muka Bumi pun terlihat. Tampak Sungai Nil diterangi oleh cahaya, begitu pula wilayah pantai timur Amerika Serikat.

Citra juga memperlihatkan cahaya yang berasal dari Bulan, aurora, dan api alami. Cahaya itulah yang membuat Bumi kerlap-kerlip seperti berhias glitter emas

Sumber : Kompas.Com

Tuesday, April 17, 2012

Cat Putih Menyelamatkan Lingkungan

Sebuah studi baru menemukan bahwa atap putih bisa berefek  baik bagi lingkungan seperti meniadakan mobil di jalan selama 50 tahun. Kualitas reflektif bahan putih, dikatakan, merefleksikan kembali energi  matahari menjadi suasana bahwa penghematan karbon dapat menjadi dramatis. Menggunakan bahan berwarna lebih terang pada permukaan jalan juga akan berkontribusi pada penghematan karbon dan dapat membantu untuk mengurangi pulau-pulau panas perkotaan, ketika berat membangun daerah menciptakan suatu iklim mikro wajar hangat. Efek dari perubahan albedo (peningkatan reflektansi surya) di daerah perkotaan dapat mengurangi suhu global hingga 0,07 ° C, setara dengan pengurangan emisi karbon dioksida sekitar 150 miliar ton, menurut penelitian oleh para ilmuwan di Universitas Concordia , Kanada, diterbitkan dalam jurnal Penelitian Lingkungan. Hashem Akbari, seorang profesor teknik sipil dan lingkungan di Concordia University mengatakan, "atap Best menghemat energi jika bangunan Anda ber-AC. Jika bangunan perlu AC, memasang atap dingin benar-benar dapat memecahkan masalah Anda dan Anda mungkin tidak membutuhkannya, "katanya. "Ini semua akan dilakukan tanpa biaya karena pada dasarnya anda melakukannya pada saat Anda mengubah atap Anda. Pada saat itu. . . Anda hanya memilih atap putih atau atap ringan. Jika Anda melakukannya maka Anda juga meningkatkan kualitas udara ambien di dalam kota dan Anda mendinginkan dunia. " Kritik terhadap usulan tersebut berpendapat bahwa manfaat dari lukisan permukaan lebih namun akan, hanya memiliki efek lokal. Iklim konsultan Perancis Jean-Marc Jancovici berkata, "Jika Anda mengurangi secara signifikan suhu di tempat dengan sesuatu seperti mengecat atap putih, itu tidak menjamin bahwa Anda akan memiliki penurunan suhu di tempat-tempat terpencil." A 2009 Royal Society studi ke dalam geo-engineering berbagai pilihan untuk yang dapat digunakan untuk mengurangi pemanasan global, juga menemukan bahwa lukisan atap putih akan memiliki sedikit keuntungan pada skala dunia. Namun dalam hal cara lokal untuk mengurangi suhu di kota-kota mengubah Albedo dari permukaan bisa menjadi cara efektif untuk mengurangi emisi CO2. Dengan mengubah reflectiveness bangunan dan permukaan perkotaan yang biasanya menahan panas mungkin ada pengurangan dalam penggunaan sistem pendingin udara yang berkontribusi terhadap emisi Co2 di daerah perkotaan banyak di iklim hangat. Dengan 50% dari populasi dunia saat ini tinggal di daerah perkotaan, yang diharapkan meningkat menjadi 70% tahun 2040, dan trotoar dan atap yang membentuk lebih dari 60% permukaan perkotaan, lukisan itu putih untuk mengurangi emisi bisa menjadi salah satu cara untuk meminimalkan kami dampak negatif terhadap lingkungan.

Friday, March 30, 2012

Titanic Tersingkap

Reruntuhan kapal itu berada dalam kegelapan, onggokan baja berkarat yang terserak di dasar laut Atlantik Utara seluas 400 hektar. Ganggang menyantapnya. Organisme aneh tanpa warna berkeliaran di sekitar bangkai kapal bergerigi itu. Dari waktu ke waktu, diawali dengan penemuan reruntuhan itu pada 1985 oleh Explorer-in-Residence Robert Ballard dan Jean-Louis Michel, robot atau kapal selam berawak menyelidiki berbagai sudut Titanic yang suram, mengirimkan berkas sonar ke arah reruntuhan itu, memotretnya berkali-kali—lalu meninggalkannya lagi.

Dalam beberapa tahun terakhir, para penjelajah seperti James Cameron dan Paul-Henry Nargeolet berhasil memperoleh banyak gambar yang semakin jelas dari reruntuhan itu. Namun, pada umumnya kita hanya dapat melihat sedikit saja bagian tersebut, seakan-akan melihatnya melalui lubang kunci. Selama ini kita belum mampu memahami hubungan antara semua kepingan reruntuhan yang berserakan itu. Selama ini kita belum pernah melihat secara menyeluruh benda yang berada di dasar laut itu.

Keadaannya baru berubah sekarang. Dalam sebuah mobil trailer yang sarat dengan peralatan canggih di halaman belakang Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI), William Lange berdiri mempelajari peta yang diperbesar, yakni peta survei sonar lokasiTitanic  (lihat poster)—sebuah mosaik yang disambung-sambungkan dengan teliti selama berbulan-bulan. Pada pandangan pertama, gambar remang-remang itu mirip permukaan bulan.

Namun, jika diamati dengan lebih teliti, lokasi itu tampaknya ditaburi benda buatan manusia. Lange kembali ke komputernya dan menunjuk ke bagian peta. Dia terus-menerus memperbesar peta itu. Sekarang kita dapat melihat haluan Titanic dengan cukup jelas, sebuah celah berupa lubang hitam, tempat menjulangnya cerobong asap di bagian depan, sebuah daun pintu yang terlontar dan tergeletak dalam lumpur, seratus meter ke arah utara. Gambar itu sangat terperinci: dalam satu bingkai, kita bahkan dapat melihat seekor ketam putih mencengkeram pagar pengaman.

Di sini, dengan sapuan mouse komputer, muncul seluruh reruntuhan Titanic—setiap tiang, setiap derek, setiap bagian mesin. Jika dulu yang terlihat hanyalah puing-puing yang nyaris tak bisa dikenali, kini gambar itu telah menjadi foto beresolusi tinggi. "Sekarang kita tahu di mana letak setiap bagiannya," ujar Lange. "Setelah seratus tahun, akhirnya semua menjadi jelas."

Bill Lange adalah kepala WHOI’s Advanced Imaging and Visualization Laboratory, sebuah studio foto berteknologi tinggi yang meneliti kedalaman laut. Laboratorium yang terletak beberapa blok dari dermaga cantik Woods Hole, di barat daya Cape Cod, berbentuk ruangan berdinding kedap suara yang dipenuhi monitor televisi HD dan sejumlah komputer yang terus dihidupkan. Lange adalah anggota ekspedisi Ballard pertama yang menemukan reruntuhan itu, dan sejak itu terus mengikuti pelatihan di lokasi tersebut, menggunakan kamera yang semakin canggih.


Sumber : http://nationalgeographic.co.id/

Teknologi Panel Surya Bisa Digunakan untuk Memperoleh Air Bersih

 
Lebih dari 100 juta orang Indonesia kekurangan akses terhadap air minum bersih dan 150 juta lainnya amat potensial terancam dengan sumber air yang terkontaminasi.

Melalui teknologi alat pemroses air minum bersih yang memanfaatkan tenaga surya, bernama F CUBED, air berkualitas tinggi pun diperoleh secara mudah serta relatif murah. Teknologi ini diperkenalkan pada rapat koordinasi bertujuan mencari solusi air bersih, Kamis (15/3) di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta.

"Rapat koordinasi berikut presentasi ini sangat penting. Kita harus segera mendapat solusi atas masalah air bersih di berbagai daerah Indonesia, yang sudah tahap kritis," Sekretaris Menko Kesra, Prof. Indroyono menyampaikan dalam rapat tersebut.

Menurut Direktur Inovasi BPPT Ridwan Djamaludin, pemerintah Indonesia lewat BPPT, LIPI, Kemenkokesra bekerja sama dengan perusahaan Australia yang menemukan F CUBED.

F CUBED keluar dari asumsi masyarakat tentang solar cells. Karena biasanya orang berpikir tenaga matahari diubah menjadi tenaga listrik dulu kemudian menjadi energi untuk proses pemurnian. Sementara F CUBED tanpa menggunakan listrik.

Alat ini juga cukup sedehana, mudah diangkut, pemasangannya tak perlu listrik, dan bertahan hingga selama dua puluh tahun. Efisiensi panel surya rata-rata di atas 60%. Dikatakan Ridwan, dengan kemampuan tenaga surya, satu unit alat per tiga meter persegi mampu menghasilkan kurang lebih 15-20 liter air dan tidak menimbulkan biaya energi lain.

Oleh karenanya, alat ini memiliki potensi bagi daerah-daerah pedesaan, persawahan. pesisir, industri pertambangan yang rentan dengan kesulitan air bersih atau tercemari polutan tertentu.

Nilai tambah dari teknologi ini adalah kecenderungannya ramah lingkungan alias bisa menekan dampak lingkungan hidup yang mungkin terjadi.

"90 persen dari penduduk Indonesia melakukan pemurnian air dengan merebusnya. Jika Indonesia berhenti merebus air, emisi karbon dioksida akan berkurang sebanyak 73% dan subsidi kerosin menurun hingga $1 milyar/tahun," ujar Greg Hinchliffe, CEO F CUBED Indonesia.

Peter Johnstone, pencipta F CUBED menegaskan, teknologi ini didedikasikan pada masyarakat dunia untuk memproduksi, mengonservasi, dan mengolah kebutuhan air.

Untuk Indonesia sendiri, data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa ada 30% yang sistem tubuhnya terganggu akibat menderita penyakit yang disebabkan air tidak bersih. Angka kematian anak oleh sebab yang sama sampai 20% per tahunnya.    

Sumber : http://nationalgeographic.co.id/


Linkwithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...