Monday, December 24, 2012

Bunga Bangkai Raksasa Mekar Sempurna


Bunga bangkai raksasa (Amorphophallus titanum) yang muncul di lingkungan Taman Hutan Raya Djuanda, Bandung, Jawa Barat, sudah mekar sempurna pada hari Sabtu (15/12/2012). 

Peristiwa itu terjadi bertepatan di akhir pekan, sehingga menarik perhatian pengunjung Tahura, yang biasanya ramai pada hari Sabtu dan Minggu.Menurut Kepala Seksi Konservasi Balai Pengelolaan Tahura Djuanda, Tata Kalsa, proses mekarnya bunga bangkai itu dimulai sehari sebelumnya, Jumat lalu pukul 11.00, dan benar-benar mekar sempurna pada petang harinya, pukul 18.00.Tinggi tongkol mahkota bunga yang berwarna kuning muda itu 193 sentimeter (cm), dan diameter mahkotanya 86,6 cm.Tanaman ini diambil dari Bengkulu tahun 2006 dari Cagar Alam Taba Penanjung, dan kemudian ditanam di Tahura Djuanda sebanyak empat umbi pada Januari 2007.Dari empat umbi itu, yang sudah berbunga baru tiga umbi. Proses berbunga sebelumnya terjadi pada tahun 2010 (tanaman yang berbeda). Lama mekar biasanya hanya empat hari, setelah itu bunga akan layu.Proses berbunga lagi diperkirakan empat atau lima tahun lagi. "Jadi ini memang peristiwa langka, sebab tanaman ini akan berbunga lagi sekitar tahun 2017," kata Tata.Rencananya, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan hari ini akan meninjau Tahura Djuanda untuk menyaksikan bunga bangkai raksasa tersebut."Senang sekali saya. Kebetulan hari ini ke sini, dan bunga bangkai ini pas mekar. Sebelumnya saya belum pernah melihat yang seperti ini," ungkap Gita Anisa, siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) At-Tauhid Kota Bandung.Sejumlah pengunjung yang kebanyakan dari kalangan pelajar banyak yang penasaran, kemudian mereka dengan kamera saling mengambil gambar di dekat bunga tersebut.Sekretaris Dinas Kehutanan Provinsi Jabar Toyibat yang kemarin mengunjungi lokasi itu berharap, momentum ini bisa membuat Tahura makin dikenal masyarakat. Bukan saja sebagai tempat konservasi alam, melainkan juga sebagai obyek wisata alam yang menarik, teduh, dan hijau

Sumber : Kompas.Com

Cara Burung Jantan Bohong Untuk Memikat Pasangannya

Sama seperti para pria yang berupaya tampil maksimal saat mereka sedang berupaya merebut hati calon pasangannya, burung-burung jantan juga melakukan hal yang serupa. Sebagai contoh, Zebra Finch (Taeniopygia guttata) menggunakan nyanyian untuk membohongi burung betina yang baru mereka temui dengan berpura-pura bahwa mereka berada dalam kondisi fisik yang sempurna. 

Burung-burung ini bertingkah seolah-olah mereka lebih sehat dibanding sebenarnya di hadapan betina yang baru dikenal. Namun, kepada pasangannya sendiri, yang sudah mampu membedakan kondisi fisik sebenarnya dari burung jantan yang bersangkutan dari suara nyanyian mereka, para pejantan ini tidak lagi berpura-pura.

Sasha Dall, peneliti dari University of Exeter, Inggris, menyebutkan, bernyanyi merupakan metode ujian yang sangat handal untuk mengetahui kondisi para burung karena aktivitas tersebut membutuhkan banyak energi. Burung jantan yang sehat dan kuat diketahui mampu bernyanyi dengan suara yang lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama. Inilah yang membuat para burung betina tertarik. 

Dalam studinya, Dall dan timnya serta peneliti dari Universite de Bourgogne, Prancis mengamati 91 ekor burung Zebra Finch jantan dan 91 betina dalam sebuah koloni dari kawasan Prancis dan 12 pasang Zebra Finch dari kawasan Inggris. Kondisi fisik tiap-tiap burung mereka catat. 

Peneliti kemudian membuat video rekaman saat burung jantan dan betina saling berjumpa, baik untuk durasi pertemuan yang sebentar ataupun dalam durasi cukup lama. Peneliti lalu membandingkan pula situasi jika para burung jantan dan betina saling bertemu dengan pasangan yang sudah dikenal ataupun dengan pasangan yang belum mengenal satu sama lain.

Mereka juga memonitor dan memantau apakah para burung menunjukkan tanda-tanda saling tertarik dan melanjutkan ke tahapan berikutnya, yakni berketurunan.

Ternyata, diketahui bahwa tidak ada beda antara nyanyian burung jantan jika bertemu dengan burung betina yang baru mereka jumpai baik dalam durasi singkat ataupun lama.  Burung jantan yang dalam kondisi tidak sehat akan coba “menipu” calon pasangan dengan menggunakan berbagai variasi nyanyian agar memberikan kesan yang baik di mata para betina yang baru mereka temui.

Tetapi, saat burung jantan itu berada di dekat pasangan hidupnya, burung jantan yang dalam kondisi sehat bernyanyi dalam nada yang lebih tinggi dibandingkan dengan burung jantan yang dalam kondisi tidak fit. Burung jantan yang dalam kondisi buruk tidak berupaya bernyanyi dengan lebih indah bagi pasangan hidupnya.

“Ini merupakan penelitian pertama yang menemukan bukti bahwa ada hubungan antara kondisi tubuh pejantan dan perbedaan nyanyian saat mereka bertemu dengan burung betina,” kata Morgan David, ketua tim peneliti yang melaporkan temuan itu di jurnal Proceedings of the Royal Society B


Sumber : Kompas.Com

Penemuan Spesies Jamur Bercahaya di Borneo


Ahli jamur asal Belanda menemukan dua spesies jamur yang mampu menghasilkan cahaya dalam ekspedisinya ke Borneo. Salah satu spesies jamur itu diduga spesies baru.

"Jamur ini menghasilkan cahaya langka tetapi eksis di belahan dunia tertentu. Fenomena ini disebut bioluminesens dan hanya bisa dilihat di daerah yang gelap di dalam hutan," ungkap Luis Morgardo dari Leiden University, salah satu ilmuwan yang terlibat penemuan, dalam tulisannya di Naturalist Biodiversity Center, Selasa (25/9/2012).

Untuk menemukan spesies tersebut, Morgardo bekerja bersama ilmuwan lain, termasuk Jozsef Geml, asisten profesor di Leiden University, dan peneliti di Herbarium Nasional Belanda, yang menjadi pengawasnya. Mereka menjelajahi ekosistem di Gunung Kinabalu, wilayah Borneo di Malaysia. Ekspedisi untuk menemukan jamur ini harus dilakukan pada malam hari.

"Di siang hari, satu spesies mungkin dijumpai dan difoto tanpa tahu bahwa spesies itu termasuk bioluminesens. Hanya ekspedisi pada malam hari yang bisa mengungkap fenomena yang tersembunyi di siang hari ini," papar Morgardo.

Morgardo menambahkan bahwa untuk menemukan spesies eksotik, ekspedisi malam hari memang harus dilakukan. Jika hanya menuruti kebiasaan, pergi pagi dan pulang sebelum matahari tenggelam, Morgardo mengatakan, "Anda berisiko untuk melewatkan penemuan berharga."

Menurut Morgardo, bioluminesens pada jamur merupakan hasil dari proses oksidasi dan belum didokumentasikan dengan baik. Bioluminesens merupakan strategi jamur untuk menarik serangga sehingga dapat menyebarkan sporanya. Di hutan hujan tropis yang minim angin untuk menyebarkan spora, serangga sangat berharga.

Selain menemukan jamur bercahaya ini, tim peneliti asal Belanda yang juga disertai peneliti Malaysia pun mengoleksi 3.500 sampel DNA dari 1.400 spesies tumbuhan, hewan, dan jamur. Dari analisis sampel, terungkap setidaknya 160 spesies yang belum dikenal.

Diberitakan Livescience, Kamis (4/10/2012), peneliti lain yang ikut serta dalam ekspedisi, Hans Feijen, menemukan lalat yang matanya memiliki semacam tangkai untuk menarik betina. Lalat itu dinyatakan bisa hidup hingga 1,5 tahun, usia yang sangat panjang bagi golongan serangga.

Rachel Schwallier, peneliti lain, juga menemukan kantong semar jenis Nepenthes lowii di tempat yang belum didokumentasikan sebagai habitat spesies itu. Seluruh penemuan baru akan dipublikasikan tahun depan.

Sumber : Kompas.Com

Wajah Bumi Dilihat dari Antariksa Pada Malam Hari


Bumi acapkali disebut Planet Biru karena citranya yang tampak biru saat diambil pada siang hari. Tapi, apakah Bumi juga biru pada malam hari?

Citra terbaru yang dirilis National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menunjukkan bahwa setelah Matahari tenggelam, bila dilihat dari antariksa, Bumi lebih menyerupai kelereng hitam dengan hiasan glitter keemasan.

Citra yang diambil dengan instrumen di satelit Suomi NPP tersebut dirilis di ajang American Geophysical Union yang diadakan di San Francisco, Selasa (4/12/2012).

"Untuk alasan yang sama dengan kita harus melihat Bumi di siang hari, kita juga harus melihat Bumi pada malam hari. Tak seperti manusia, Bumi tak pernah tidur," kata Steve Miller dari NOAA seperti dikutip Space, Rabu (5/12/2012).

Instrumen yang digunakan untuk menghasilkan citra Bumi kali ini disebut Visible Infrared Imaging Radiometer Suite (VIIRS). Instrumen ini sebenarnya berfungsi menangkap data awan, salju, dan formasi es di malam hari.

VIIRS begitu sensitif sehingga cahaya yang dihasilkan oleh lampu-lampu di muka Bumi pun terlihat. Tampak Sungai Nil diterangi oleh cahaya, begitu pula wilayah pantai timur Amerika Serikat.

Citra juga memperlihatkan cahaya yang berasal dari Bulan, aurora, dan api alami. Cahaya itulah yang membuat Bumi kerlap-kerlip seperti berhias glitter emas

Sumber : Kompas.Com

Tuesday, April 17, 2012

Cat Putih Menyelamatkan Lingkungan

Sebuah studi baru menemukan bahwa atap putih bisa berefek  baik bagi lingkungan seperti meniadakan mobil di jalan selama 50 tahun. Kualitas reflektif bahan putih, dikatakan, merefleksikan kembali energi  matahari menjadi suasana bahwa penghematan karbon dapat menjadi dramatis. Menggunakan bahan berwarna lebih terang pada permukaan jalan juga akan berkontribusi pada penghematan karbon dan dapat membantu untuk mengurangi pulau-pulau panas perkotaan, ketika berat membangun daerah menciptakan suatu iklim mikro wajar hangat. Efek dari perubahan albedo (peningkatan reflektansi surya) di daerah perkotaan dapat mengurangi suhu global hingga 0,07 ° C, setara dengan pengurangan emisi karbon dioksida sekitar 150 miliar ton, menurut penelitian oleh para ilmuwan di Universitas Concordia , Kanada, diterbitkan dalam jurnal Penelitian Lingkungan. Hashem Akbari, seorang profesor teknik sipil dan lingkungan di Concordia University mengatakan, "atap Best menghemat energi jika bangunan Anda ber-AC. Jika bangunan perlu AC, memasang atap dingin benar-benar dapat memecahkan masalah Anda dan Anda mungkin tidak membutuhkannya, "katanya. "Ini semua akan dilakukan tanpa biaya karena pada dasarnya anda melakukannya pada saat Anda mengubah atap Anda. Pada saat itu. . . Anda hanya memilih atap putih atau atap ringan. Jika Anda melakukannya maka Anda juga meningkatkan kualitas udara ambien di dalam kota dan Anda mendinginkan dunia. " Kritik terhadap usulan tersebut berpendapat bahwa manfaat dari lukisan permukaan lebih namun akan, hanya memiliki efek lokal. Iklim konsultan Perancis Jean-Marc Jancovici berkata, "Jika Anda mengurangi secara signifikan suhu di tempat dengan sesuatu seperti mengecat atap putih, itu tidak menjamin bahwa Anda akan memiliki penurunan suhu di tempat-tempat terpencil." A 2009 Royal Society studi ke dalam geo-engineering berbagai pilihan untuk yang dapat digunakan untuk mengurangi pemanasan global, juga menemukan bahwa lukisan atap putih akan memiliki sedikit keuntungan pada skala dunia. Namun dalam hal cara lokal untuk mengurangi suhu di kota-kota mengubah Albedo dari permukaan bisa menjadi cara efektif untuk mengurangi emisi CO2. Dengan mengubah reflectiveness bangunan dan permukaan perkotaan yang biasanya menahan panas mungkin ada pengurangan dalam penggunaan sistem pendingin udara yang berkontribusi terhadap emisi Co2 di daerah perkotaan banyak di iklim hangat. Dengan 50% dari populasi dunia saat ini tinggal di daerah perkotaan, yang diharapkan meningkat menjadi 70% tahun 2040, dan trotoar dan atap yang membentuk lebih dari 60% permukaan perkotaan, lukisan itu putih untuk mengurangi emisi bisa menjadi salah satu cara untuk meminimalkan kami dampak negatif terhadap lingkungan.

Friday, March 30, 2012

Titanic Tersingkap

Reruntuhan kapal itu berada dalam kegelapan, onggokan baja berkarat yang terserak di dasar laut Atlantik Utara seluas 400 hektar. Ganggang menyantapnya. Organisme aneh tanpa warna berkeliaran di sekitar bangkai kapal bergerigi itu. Dari waktu ke waktu, diawali dengan penemuan reruntuhan itu pada 1985 oleh Explorer-in-Residence Robert Ballard dan Jean-Louis Michel, robot atau kapal selam berawak menyelidiki berbagai sudut Titanic yang suram, mengirimkan berkas sonar ke arah reruntuhan itu, memotretnya berkali-kali—lalu meninggalkannya lagi.

Dalam beberapa tahun terakhir, para penjelajah seperti James Cameron dan Paul-Henry Nargeolet berhasil memperoleh banyak gambar yang semakin jelas dari reruntuhan itu. Namun, pada umumnya kita hanya dapat melihat sedikit saja bagian tersebut, seakan-akan melihatnya melalui lubang kunci. Selama ini kita belum mampu memahami hubungan antara semua kepingan reruntuhan yang berserakan itu. Selama ini kita belum pernah melihat secara menyeluruh benda yang berada di dasar laut itu.

Keadaannya baru berubah sekarang. Dalam sebuah mobil trailer yang sarat dengan peralatan canggih di halaman belakang Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI), William Lange berdiri mempelajari peta yang diperbesar, yakni peta survei sonar lokasiTitanic  (lihat poster)—sebuah mosaik yang disambung-sambungkan dengan teliti selama berbulan-bulan. Pada pandangan pertama, gambar remang-remang itu mirip permukaan bulan.

Namun, jika diamati dengan lebih teliti, lokasi itu tampaknya ditaburi benda buatan manusia. Lange kembali ke komputernya dan menunjuk ke bagian peta. Dia terus-menerus memperbesar peta itu. Sekarang kita dapat melihat haluan Titanic dengan cukup jelas, sebuah celah berupa lubang hitam, tempat menjulangnya cerobong asap di bagian depan, sebuah daun pintu yang terlontar dan tergeletak dalam lumpur, seratus meter ke arah utara. Gambar itu sangat terperinci: dalam satu bingkai, kita bahkan dapat melihat seekor ketam putih mencengkeram pagar pengaman.

Di sini, dengan sapuan mouse komputer, muncul seluruh reruntuhan Titanic—setiap tiang, setiap derek, setiap bagian mesin. Jika dulu yang terlihat hanyalah puing-puing yang nyaris tak bisa dikenali, kini gambar itu telah menjadi foto beresolusi tinggi. "Sekarang kita tahu di mana letak setiap bagiannya," ujar Lange. "Setelah seratus tahun, akhirnya semua menjadi jelas."

Bill Lange adalah kepala WHOI’s Advanced Imaging and Visualization Laboratory, sebuah studio foto berteknologi tinggi yang meneliti kedalaman laut. Laboratorium yang terletak beberapa blok dari dermaga cantik Woods Hole, di barat daya Cape Cod, berbentuk ruangan berdinding kedap suara yang dipenuhi monitor televisi HD dan sejumlah komputer yang terus dihidupkan. Lange adalah anggota ekspedisi Ballard pertama yang menemukan reruntuhan itu, dan sejak itu terus mengikuti pelatihan di lokasi tersebut, menggunakan kamera yang semakin canggih.


Sumber : http://nationalgeographic.co.id/

Teknologi Panel Surya Bisa Digunakan untuk Memperoleh Air Bersih

 
Lebih dari 100 juta orang Indonesia kekurangan akses terhadap air minum bersih dan 150 juta lainnya amat potensial terancam dengan sumber air yang terkontaminasi.

Melalui teknologi alat pemroses air minum bersih yang memanfaatkan tenaga surya, bernama F CUBED, air berkualitas tinggi pun diperoleh secara mudah serta relatif murah. Teknologi ini diperkenalkan pada rapat koordinasi bertujuan mencari solusi air bersih, Kamis (15/3) di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta.

"Rapat koordinasi berikut presentasi ini sangat penting. Kita harus segera mendapat solusi atas masalah air bersih di berbagai daerah Indonesia, yang sudah tahap kritis," Sekretaris Menko Kesra, Prof. Indroyono menyampaikan dalam rapat tersebut.

Menurut Direktur Inovasi BPPT Ridwan Djamaludin, pemerintah Indonesia lewat BPPT, LIPI, Kemenkokesra bekerja sama dengan perusahaan Australia yang menemukan F CUBED.

F CUBED keluar dari asumsi masyarakat tentang solar cells. Karena biasanya orang berpikir tenaga matahari diubah menjadi tenaga listrik dulu kemudian menjadi energi untuk proses pemurnian. Sementara F CUBED tanpa menggunakan listrik.

Alat ini juga cukup sedehana, mudah diangkut, pemasangannya tak perlu listrik, dan bertahan hingga selama dua puluh tahun. Efisiensi panel surya rata-rata di atas 60%. Dikatakan Ridwan, dengan kemampuan tenaga surya, satu unit alat per tiga meter persegi mampu menghasilkan kurang lebih 15-20 liter air dan tidak menimbulkan biaya energi lain.

Oleh karenanya, alat ini memiliki potensi bagi daerah-daerah pedesaan, persawahan. pesisir, industri pertambangan yang rentan dengan kesulitan air bersih atau tercemari polutan tertentu.

Nilai tambah dari teknologi ini adalah kecenderungannya ramah lingkungan alias bisa menekan dampak lingkungan hidup yang mungkin terjadi.

"90 persen dari penduduk Indonesia melakukan pemurnian air dengan merebusnya. Jika Indonesia berhenti merebus air, emisi karbon dioksida akan berkurang sebanyak 73% dan subsidi kerosin menurun hingga $1 milyar/tahun," ujar Greg Hinchliffe, CEO F CUBED Indonesia.

Peter Johnstone, pencipta F CUBED menegaskan, teknologi ini didedikasikan pada masyarakat dunia untuk memproduksi, mengonservasi, dan mengolah kebutuhan air.

Untuk Indonesia sendiri, data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa ada 30% yang sistem tubuhnya terganggu akibat menderita penyakit yang disebabkan air tidak bersih. Angka kematian anak oleh sebab yang sama sampai 20% per tahunnya.    

Sumber : http://nationalgeographic.co.id/


Thursday, March 29, 2012

Puluhan Miliar Planet Berbatu Berada dalam Zona Layak Huni di Bima Sakti

Karena kurcaci merah berjumlah sangat banyak - ada sekitar 160 miliar di Bima Sakti













Hasil terbaru dari HARPS ESO menunjukkan bahwa planet-planet berbatu yang berukuran lebih kecil dari Bumi ternyata sangat berlimpah di zona layak huni di sekitar bintang merah yang redup. Tim internasional bahkan memperkirakan, di galaksi Bima Sakti kita saja terdapat puluhan miliar planet seperti ini, dan mungkin ada sekitar seratus planet serupa di lingkungan terdekat Matahari. Ini merupakan pengukuran langsung pertama terhadap frekuensi Bumi-super di sekitar bintang-bintang kurcaci merah, yang jumlahnya mencapai hingga 80% dari keseluruhan bintang di Bima Sakti.
Estimasi langsung pertama terhadap sejumlah planet bercahaya di sekitar bintang kurcaci merah ini, yang baru saja diumumkan oleh tim internasional, menggunakan observasi dengan spektograf HARPS pada teleskop 3,6 meter di Observatorium La Silla ESO di Chile [1]. Pengumuman terbaru (eso1204), yang menunjukkan bahwa planet-planet tersebut berada di berbagai tempat di galaksi kita, menggunakan metode berbeda yang tidak terlalu sensitif terhadap kelas eksoplanet yang penting ini.
Tim HARPS telah mencari eksoplanet yang mengorbiti jenis bintang yang paling umum di Bima Sakti, yaitu bintang kurcuci merah (juga dikenal sebagai bintang kurcaci M [2]). Bintang-bintang tersebut sangat samar dan dingin dibandingkan Matahari, namun berjumlah sangat banyak dan berusia panjang, jumlahnya mencapai 80% dari keseluruhan bintang di Bima Sakti.
“Pengamatan terbaru kami dengan HARPS mengindikasikan bahwa sekitar 40% bintang kurcaci merah memiliki Bumi-super (planet yang memiliki massa antara satu dan sepuluh kali massa Bumi) yang mengorbit di zona layak huni, di mana bisa terdapat zat cair di permukaan planet tersebut,” kata Xavier Bonfils (IPAG, Observatoire des Sciences de l’Univers de Grenoble, France) yang memimpin tim riset. “Karena kurcaci merah berjumlah sangat banyak – ada sekitar 160 miliar di Bima Sakti – maka hal ini membawa kita pada hasil yang menakjubkan bahwa terdapat puluhan miliar planet seperti itu di galaksi kita sendiri.”
Tim HARPS melakukan survei pada sampel yang dipilih secara cermat dari 102 bintang kurcaci merah di langit selatan selama periode enam tahun. Sebanyak sembilan Bumi-super telah ditemukan, termasuk dua di dalam zona layak huni Gliese 581 (eso0915) dan Gliese 667 C. Para astronom mampu memperkirakan seberapa berat planet-planet tersebut dan seberapa jauh letaknya dari bintang yang mereka orbiti.
Dengan menggabungkan semua data, termasuk berbagai observasi bintang yang tidak memiliki planet, serta mengamati sebagian kecil planet-planet yang bisa ditemukan, tim riset mampu mengetahui betapa umumnya planet seperti itu di sekitar bintang kurcaci merah. Mereka menemukan bahwa frekuensi terjadinya Bumi-super [3] di zona layak huni adalah 41% dengan kisarannya dari 28% hingga 95%.
Di sisi lain, planet yang lebih besar, mirip Jupiter dan Saturnus dalam Tata Surya kita, justru sangat jarang ditemukan di sekitar bintang kurcaci merah. Kurang dari hanya 12% kurcaci merah yang diperkirakan memiliki planet raksasa (dengan massa antara 100 dan 1000 kali Bumi).
Dengan banyaknya jumlah bintang kurcaci merah yang berdekatan dengan Matahari, estimasi terbaru menunjukkan, mungkin ada sekitar seratus planet Bumi-super di zona layak huni di seputar bintang yang berdekatan dengan Matahari, yang jaraknya berkisar kurang dari 30 tahun cahaya [4].
“Zona layak huni di sekitar kurcaci merah, yang suhunya cocok bagi zat cair bisa berada di permukaannya, jauh lebih dekat dengan bintangnya dibandingkan jarak Bumi ke Matahari,” kata St├ęphane Udry (Geneva Observatory dan anggota tim riset). “Namun kurcaci merah diketahui menjadi sasaran letusan atau percikan bintang, yang mungkin menghujani planet itu dengan sinar-X atau radiasi ultraviolet, dan yang membuat kehidupan di sana menjadi sangat kecil kemungkinannya.”
Salah satu planet yang ditemukan dalam survei HARPS pada kurcaci merah adalah Gliese 667 Cc [5]. Planet ini adalah planet kedua dalam sistem tiga bintang dan tampaknya terletak dekat dengan pusat zona layak huni. Meskipun beratnya lebih dari empat kali berat Bumi, planet ini merupakan kembaran yang paling mirip dengan Bumi yang pernah ditemukan sejauh ini dan hampir pasti memiliki kondisi yang tepat untuk keberadaan zat cair di permukaannya. Ini adalah planet Bumi-super kedua dalam zona layak huni kurcaci merah yang ditemukan selama survei HARPS, setelah Gliese 581d diumumkan pada tahun 2007 dan dikonfirmasi pada tahun 2009.
“Kini kita tahu bahwa terdapat banyak Bumi-super di sekitar bintang kurcaci merah terdekat yang harus kita identifikasi lebih lanjut dengan menggunakan instrumen HARPS maupun instrumen masa depan. Beberapa planet seperti ini diperkirakan akan melintas di depan bintang induknya – ini akan membuka kemungkinan yang menarik dalam mempelajari atmosfer planet tersebut dan mencari tanda-tanda kehidupan,” simpul Xavier Delfosse, anggota tim riset(eso1210)

Sumber : http://www.faktailmiah.com/

Penemuan Fosil Kaki ‘Lucy’ Hidup Berdampingan dengan Spesies Nenek Moyang Manusia yang Berbeda

Tim ilmuwan telah mengumumkan penemuan sebuah kaki parsial berusia 3,4 juta tahun dari area Woranso-Mille di kawasan Afar, Ethiopia. Fosil kaki ini tidak termasuk ke dalam anggota spesies “Lucy”, Australopithecus afarensis, yang terkenal sebagai nenek moyang manusia awal. Penelitian pada spesimen baru ini menunjukkan bahwa lebih dari satu spesies nenek moyang manusia awal telah ada pada masa antara 3 dan 4 juta tahun yang lalu, di mana masing-masing dari mereka memiliki metode penggerak yang berbeda. Analisis ini akan dipublikasikan dalam jurnal Nature, edisi 29 Maret 2012. Kaki parsial ini ditemukan pada Februari 2009 di sebuah daerah yang dikenal secara lokal sebagai Burtele. “Kaki parsial Burtele secara jelas menunjukkan bahwa pada masa 3,4 juta tahun yang lalu, spesies Lucy, yang berjalan tegak dengan dua kaki, bukanlah satu-satunya spesies hominin yang hidup di wilayah Ethiopia ini,” kata penulis utama dan pemimpin proyek, Dr. Yohannes Haile-Selassie, seorang kurator antropologi fisika di Museum Sejarah Alam The Cleveland. “Spesies Lucy hidup di masa yang bersamaan dengan kerabat dekat yang lebih mahir memanjat pohon, seperti halnya spesies Ardi, Ardipithecus ramidus, yang hidup 4,4 juta tahun yang lalu.”

Metatarsal keempat dari kaki kanan parsial Burtele setelah temuan ini berada di tangan peneliti Stephanie Melillo. (Kredit: Museum Sejarah Alam The Cleveland) Kaki parsial ini merupakan bukti pertama keberadaan - setidaknya - dua spesies pra-manusia dengan modus penggerak yang berbeda-beda namun secara bersamaan hidup di Afrika Timur sekitar 3,4 juta tahun yang lalu. Ibu jari kaki pada spesies Lucy selaras dengan empat jari kaki lainnya sehingga bisa berjalan tegak layaknya bipedal, sedangkan kaki Burtele memiliki jempol kaki yang posisinya berlawanan seperti yang dimiliki Ardi sebelumnya. “Penemuan ini cukup mengejutkan,” kata rekan penulis dalam studi, Dr. Bruce Latimer dari Universitas Case Western Reserve. “Elemen-elemen fosil ini mewakili tulang yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Cengkraman jempol kakinya bisa bergerak dari sisi ke sisi lain, namun tidak ada ekspansi pada ujung atas sendi yang memungkinkan berbagai gerakan tambahan yang diperlukan untuk mendorong dari tanah agar bisa berjalan tegak. Individu ini cenderung memiliki gaya berjalan yang agak canggung ketika berada di darat.” Pemandangan panoramik bagian barat laut daerah penelitian di Woranso-Mille. (Kredit: Museum Sejarah Alam The Cleveland) Kaki parsial ini belum ditetapkan sebagai spesies tertentu karena kurangnya elemen tengkorak dan gigi yang terkait. “Penanggalan radioaktif menunjukkan bahwa fosil-fosil yang berada dalam lapisan batu pasir memiliki usia yang lebih muda dari 3,46 juta tahun,” kata rekan penulis Dr. Beverly Saylor dari Universitas Case Western Reserve. “Fosil-fosil ikan, buaya dan kura-kura yang berada di dekatnya, serta karakteristik fisik dan kimia sedimen menunjukkan lingkungannya merupakan sebuah mosaik saluran sungai dan delta yang berdekatan dengan hutan terbuka pepohonan dan semak-semak,” kata Saylor. “Ini sesuai dengan fosil, yang secara tegas menunjukkan bahwa suatu hominin beradaptasi untuk tinggal di pepohonan, pada masa yang sama di saat ‘Lucy’ hidup di darat.”

Sumber : http://www.faktailmiah.com/

Thursday, February 2, 2012

Wednesday, January 18, 2012

Atap Rumah dengan Cat Putih Mengurangi Pemanasan Global

Artikel ini mungkin telah populer sejak Desember 2011, tetapi untuk lebih menggaungkan kampanye penggunaan atap berwarna putih maka saya kembali membuat tulisan tersebut demi untuk penyelamatan lingkungan 
 
Warna atap rumah biasanya berwarna merah bata, biru, hitam, hijau tua, dan lain-lain. Sangat jarang kita melihat atap berwarna putih. Untuk bangunan dengan dak pun biasa mengikuti warna semen yaitu abu-abu. Ternyata untuk kita yang tinggal di daerah tropis dan panas, atap berwarna putih akan jauh lebih bermanfaat. Permukaan atap menutupi rata-rata 25% dari seluruh permukaan kota. Sedangkan jalanan menutupi sekitar 35% dari seluruh permukaan kota. Menurut penelitian dari Hashem Akbari, seorang peneliti dari Heat Island Group, bila 100 kota didunia mengganti atap dengan warna putih, dan juga jalanan dengan bahan yang lebih memantulkan cahaya, seperti jalan beton dibandingkan jalan aspal, maka efek pendinginan global yang dihasilkan akan sangat besar. khusus untuk penggunaan atap berwarna hitam : atap berwarna hitam dapat menambah panas suhu di permukaan atap. (itu karena seperti apa yang dulu kita pelajari di sekolah, bahwa warna hitam dapat menyerap kalor (panas) lebih banyak di bandingkan warna putih. hal itu akan mengakibatkan meningkatnya juga suhu di dalam ruangan. Untuk mengurangi hawa panas tersebut, mungkin cara yang paling murah adalah dengan mengecat atap menggunakan cat berwarna putih. hal ini karena atap berwarna putih bisa memantulkan sinar ultraviolet lebih banyak di bandingkan warna gelap seperti warna hitam, dan dapat mengurangi transfer hawa panas kedalam ruangan. Negara bagian California sudah mengharuskan semua bangunan baru sejak tahun 2005, menggunakan atap berwarna putih, untuk permukaan atap yang rata maupun menurun Penerapan atap berwarna putih ini, selain bisa menghemat energi dan uang, hal ini juga dapat sedikit membantu dalam proses penyelamatan lingkungan Memang tampaknya aneh jika kita tiba-tiba mengganti cat atap rumah kita menjadi putih, tapi sebagai seorang yang telah memahami tentang efek pemanasan glogal. Ayo kita terapkan ini




Artikel Terkait :

1.  Perangi Pemanasan Global dengan Atap Putih  

Friday, January 13, 2012

Robot Berbentuk Bola Bisa Terbang Dengan Kecepatan 60 KM per Jam

Seorang ilmuwan Jepang baru saja menciptakan sebuah alat dengan desain yang revolusioner. Para peneliti yang bekerja untuk departemen pertahanan Jepang tersebut berhasil menciptakan sebuah alat berbentuk bola yang dapat terbang.
Penciptaan robot berbentuk bola tersebut terbilang sangat mutakhir. Robot ini dapat melaju dengan kecepatan 60 km/jam. Robot ini memiliki bobot 350 gram dengan diamter 42 sentimeter.
Biaya penciptaan robot tersebut pun terbilang murah. Hampir sebagian besar bagian-bagiannya terbuat dari barang bekas. Total biaya pembuatannya mencapai 1400 USD atau sekitar 12 juta rupiah



Daftar Link Lain yang Terkait :

1. Berita Teknologi 
2. Teknologi Robot
3. Perkembangan Teknologi Robot


Atmosfir Tercemar Mercuri

JurnalScience – Demi untuk mengehar kekayaan dan energi , selama kurun waktu 5000 tahun terakhir ini, manusia telah melepaskan lebih dari 385.000 ton merkuri ke lingkungan.ini merupakan sebuah masalah untuk kesehatan, menurut sebuah studi baru yang menantang gagasan bahwa pelebasan logam di lingkungan mengalami penurunan. Laporan ini muncul untuk pertama kalinya di ACS Jurnal Lingkungan ilmu pengetahuan dan teknologi.

David dan rekannya menjelaskan bahwa manusia telah memasukkan merkuri ke atmosfer melalui pembakaran bahan bakar fosil dan melalui penambangan dan proses industri. Merkuri terdapat di dalam batubara dan Orc yang digunakan untuk mengekstrak emas dan perak. Ada banyak informasi tentang rilis terbaru dari merkuri, tetapi hanya sedikit informasi tentang pencemaran pada era dahulu. Untuk mengetahui berapa banyak orang memiliki dampak selama berabad abad itu, para ilmuan melakukan direkonstruksi penambahan merkuri ke atmosfer oleh manusia dengan menggunakan data historis dan model komputer.

Penelitian ini menunjukkan bahwa emisi merkuri memuncak selama Amerika Utara melakukan penambangan besar besaran emas dan perak di akhir tahun 1800, tetapi mengalami penurunan di pertengahan abad ke 20, dan yang membuat lonjakan kenaikan adalah kontribusi dari pemakaian batubara. Mereka melaporkan Asia telah menyusul Eropa dan Amerika sebagai penyumbang terbesar merkuri. Data terakhir menunjukkan bahwa konstrasi merkuri di atmosfer menurun, dan ini bertolak belakang  dengan kesimpulan mereka dengan trus meningkatnya emisi.

Mengubah kondisi atmosfer mungkin merupakan tanggung jawab kita bersama, tetapi hal ini hanya dipahami dalam bentuk pengurangan merkuri dalam bentuk pembuangan barang seperti baterai dan termometer.hal ini tidak lah cukup, para peneliti memprediksi merkuri dilepaskan dari pertambangan dan bahan bakar yang telah dilakukan selama 2000 tahun.


Copied from : http://jurnalsecience.blogspot.com/2012/01/atmosfer-tercemah-oleh-merkuri.html#ixzz1jCUO4M9H
Under Creative Commons License: Attribution

Linkwithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...