Friday, March 30, 2012

Titanic Tersingkap

Reruntuhan kapal itu berada dalam kegelapan, onggokan baja berkarat yang terserak di dasar laut Atlantik Utara seluas 400 hektar. Ganggang menyantapnya. Organisme aneh tanpa warna berkeliaran di sekitar bangkai kapal bergerigi itu. Dari waktu ke waktu, diawali dengan penemuan reruntuhan itu pada 1985 oleh Explorer-in-Residence Robert Ballard dan Jean-Louis Michel, robot atau kapal selam berawak menyelidiki berbagai sudut Titanic yang suram, mengirimkan berkas sonar ke arah reruntuhan itu, memotretnya berkali-kali—lalu meninggalkannya lagi.

Dalam beberapa tahun terakhir, para penjelajah seperti James Cameron dan Paul-Henry Nargeolet berhasil memperoleh banyak gambar yang semakin jelas dari reruntuhan itu. Namun, pada umumnya kita hanya dapat melihat sedikit saja bagian tersebut, seakan-akan melihatnya melalui lubang kunci. Selama ini kita belum mampu memahami hubungan antara semua kepingan reruntuhan yang berserakan itu. Selama ini kita belum pernah melihat secara menyeluruh benda yang berada di dasar laut itu.

Keadaannya baru berubah sekarang. Dalam sebuah mobil trailer yang sarat dengan peralatan canggih di halaman belakang Woods Hole Oceanographic Institution (WHOI), William Lange berdiri mempelajari peta yang diperbesar, yakni peta survei sonar lokasiTitanic  (lihat poster)—sebuah mosaik yang disambung-sambungkan dengan teliti selama berbulan-bulan. Pada pandangan pertama, gambar remang-remang itu mirip permukaan bulan.

Namun, jika diamati dengan lebih teliti, lokasi itu tampaknya ditaburi benda buatan manusia. Lange kembali ke komputernya dan menunjuk ke bagian peta. Dia terus-menerus memperbesar peta itu. Sekarang kita dapat melihat haluan Titanic dengan cukup jelas, sebuah celah berupa lubang hitam, tempat menjulangnya cerobong asap di bagian depan, sebuah daun pintu yang terlontar dan tergeletak dalam lumpur, seratus meter ke arah utara. Gambar itu sangat terperinci: dalam satu bingkai, kita bahkan dapat melihat seekor ketam putih mencengkeram pagar pengaman.

Di sini, dengan sapuan mouse komputer, muncul seluruh reruntuhan Titanic—setiap tiang, setiap derek, setiap bagian mesin. Jika dulu yang terlihat hanyalah puing-puing yang nyaris tak bisa dikenali, kini gambar itu telah menjadi foto beresolusi tinggi. "Sekarang kita tahu di mana letak setiap bagiannya," ujar Lange. "Setelah seratus tahun, akhirnya semua menjadi jelas."

Bill Lange adalah kepala WHOI’s Advanced Imaging and Visualization Laboratory, sebuah studio foto berteknologi tinggi yang meneliti kedalaman laut. Laboratorium yang terletak beberapa blok dari dermaga cantik Woods Hole, di barat daya Cape Cod, berbentuk ruangan berdinding kedap suara yang dipenuhi monitor televisi HD dan sejumlah komputer yang terus dihidupkan. Lange adalah anggota ekspedisi Ballard pertama yang menemukan reruntuhan itu, dan sejak itu terus mengikuti pelatihan di lokasi tersebut, menggunakan kamera yang semakin canggih.


Sumber : http://nationalgeographic.co.id/

Teknologi Panel Surya Bisa Digunakan untuk Memperoleh Air Bersih

 
Lebih dari 100 juta orang Indonesia kekurangan akses terhadap air minum bersih dan 150 juta lainnya amat potensial terancam dengan sumber air yang terkontaminasi.

Melalui teknologi alat pemroses air minum bersih yang memanfaatkan tenaga surya, bernama F CUBED, air berkualitas tinggi pun diperoleh secara mudah serta relatif murah. Teknologi ini diperkenalkan pada rapat koordinasi bertujuan mencari solusi air bersih, Kamis (15/3) di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Jakarta.

"Rapat koordinasi berikut presentasi ini sangat penting. Kita harus segera mendapat solusi atas masalah air bersih di berbagai daerah Indonesia, yang sudah tahap kritis," Sekretaris Menko Kesra, Prof. Indroyono menyampaikan dalam rapat tersebut.

Menurut Direktur Inovasi BPPT Ridwan Djamaludin, pemerintah Indonesia lewat BPPT, LIPI, Kemenkokesra bekerja sama dengan perusahaan Australia yang menemukan F CUBED.

F CUBED keluar dari asumsi masyarakat tentang solar cells. Karena biasanya orang berpikir tenaga matahari diubah menjadi tenaga listrik dulu kemudian menjadi energi untuk proses pemurnian. Sementara F CUBED tanpa menggunakan listrik.

Alat ini juga cukup sedehana, mudah diangkut, pemasangannya tak perlu listrik, dan bertahan hingga selama dua puluh tahun. Efisiensi panel surya rata-rata di atas 60%. Dikatakan Ridwan, dengan kemampuan tenaga surya, satu unit alat per tiga meter persegi mampu menghasilkan kurang lebih 15-20 liter air dan tidak menimbulkan biaya energi lain.

Oleh karenanya, alat ini memiliki potensi bagi daerah-daerah pedesaan, persawahan. pesisir, industri pertambangan yang rentan dengan kesulitan air bersih atau tercemari polutan tertentu.

Nilai tambah dari teknologi ini adalah kecenderungannya ramah lingkungan alias bisa menekan dampak lingkungan hidup yang mungkin terjadi.

"90 persen dari penduduk Indonesia melakukan pemurnian air dengan merebusnya. Jika Indonesia berhenti merebus air, emisi karbon dioksida akan berkurang sebanyak 73% dan subsidi kerosin menurun hingga $1 milyar/tahun," ujar Greg Hinchliffe, CEO F CUBED Indonesia.

Peter Johnstone, pencipta F CUBED menegaskan, teknologi ini didedikasikan pada masyarakat dunia untuk memproduksi, mengonservasi, dan mengolah kebutuhan air.

Untuk Indonesia sendiri, data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa ada 30% yang sistem tubuhnya terganggu akibat menderita penyakit yang disebabkan air tidak bersih. Angka kematian anak oleh sebab yang sama sampai 20% per tahunnya.    

Sumber : http://nationalgeographic.co.id/


Thursday, March 29, 2012

Puluhan Miliar Planet Berbatu Berada dalam Zona Layak Huni di Bima Sakti

Karena kurcaci merah berjumlah sangat banyak - ada sekitar 160 miliar di Bima Sakti













Hasil terbaru dari HARPS ESO menunjukkan bahwa planet-planet berbatu yang berukuran lebih kecil dari Bumi ternyata sangat berlimpah di zona layak huni di sekitar bintang merah yang redup. Tim internasional bahkan memperkirakan, di galaksi Bima Sakti kita saja terdapat puluhan miliar planet seperti ini, dan mungkin ada sekitar seratus planet serupa di lingkungan terdekat Matahari. Ini merupakan pengukuran langsung pertama terhadap frekuensi Bumi-super di sekitar bintang-bintang kurcaci merah, yang jumlahnya mencapai hingga 80% dari keseluruhan bintang di Bima Sakti.
Estimasi langsung pertama terhadap sejumlah planet bercahaya di sekitar bintang kurcaci merah ini, yang baru saja diumumkan oleh tim internasional, menggunakan observasi dengan spektograf HARPS pada teleskop 3,6 meter di Observatorium La Silla ESO di Chile [1]. Pengumuman terbaru (eso1204), yang menunjukkan bahwa planet-planet tersebut berada di berbagai tempat di galaksi kita, menggunakan metode berbeda yang tidak terlalu sensitif terhadap kelas eksoplanet yang penting ini.
Tim HARPS telah mencari eksoplanet yang mengorbiti jenis bintang yang paling umum di Bima Sakti, yaitu bintang kurcuci merah (juga dikenal sebagai bintang kurcaci M [2]). Bintang-bintang tersebut sangat samar dan dingin dibandingkan Matahari, namun berjumlah sangat banyak dan berusia panjang, jumlahnya mencapai 80% dari keseluruhan bintang di Bima Sakti.
“Pengamatan terbaru kami dengan HARPS mengindikasikan bahwa sekitar 40% bintang kurcaci merah memiliki Bumi-super (planet yang memiliki massa antara satu dan sepuluh kali massa Bumi) yang mengorbit di zona layak huni, di mana bisa terdapat zat cair di permukaan planet tersebut,” kata Xavier Bonfils (IPAG, Observatoire des Sciences de l’Univers de Grenoble, France) yang memimpin tim riset. “Karena kurcaci merah berjumlah sangat banyak – ada sekitar 160 miliar di Bima Sakti – maka hal ini membawa kita pada hasil yang menakjubkan bahwa terdapat puluhan miliar planet seperti itu di galaksi kita sendiri.”
Tim HARPS melakukan survei pada sampel yang dipilih secara cermat dari 102 bintang kurcaci merah di langit selatan selama periode enam tahun. Sebanyak sembilan Bumi-super telah ditemukan, termasuk dua di dalam zona layak huni Gliese 581 (eso0915) dan Gliese 667 C. Para astronom mampu memperkirakan seberapa berat planet-planet tersebut dan seberapa jauh letaknya dari bintang yang mereka orbiti.
Dengan menggabungkan semua data, termasuk berbagai observasi bintang yang tidak memiliki planet, serta mengamati sebagian kecil planet-planet yang bisa ditemukan, tim riset mampu mengetahui betapa umumnya planet seperti itu di sekitar bintang kurcaci merah. Mereka menemukan bahwa frekuensi terjadinya Bumi-super [3] di zona layak huni adalah 41% dengan kisarannya dari 28% hingga 95%.
Di sisi lain, planet yang lebih besar, mirip Jupiter dan Saturnus dalam Tata Surya kita, justru sangat jarang ditemukan di sekitar bintang kurcaci merah. Kurang dari hanya 12% kurcaci merah yang diperkirakan memiliki planet raksasa (dengan massa antara 100 dan 1000 kali Bumi).
Dengan banyaknya jumlah bintang kurcaci merah yang berdekatan dengan Matahari, estimasi terbaru menunjukkan, mungkin ada sekitar seratus planet Bumi-super di zona layak huni di seputar bintang yang berdekatan dengan Matahari, yang jaraknya berkisar kurang dari 30 tahun cahaya [4].
“Zona layak huni di sekitar kurcaci merah, yang suhunya cocok bagi zat cair bisa berada di permukaannya, jauh lebih dekat dengan bintangnya dibandingkan jarak Bumi ke Matahari,” kata St├ęphane Udry (Geneva Observatory dan anggota tim riset). “Namun kurcaci merah diketahui menjadi sasaran letusan atau percikan bintang, yang mungkin menghujani planet itu dengan sinar-X atau radiasi ultraviolet, dan yang membuat kehidupan di sana menjadi sangat kecil kemungkinannya.”
Salah satu planet yang ditemukan dalam survei HARPS pada kurcaci merah adalah Gliese 667 Cc [5]. Planet ini adalah planet kedua dalam sistem tiga bintang dan tampaknya terletak dekat dengan pusat zona layak huni. Meskipun beratnya lebih dari empat kali berat Bumi, planet ini merupakan kembaran yang paling mirip dengan Bumi yang pernah ditemukan sejauh ini dan hampir pasti memiliki kondisi yang tepat untuk keberadaan zat cair di permukaannya. Ini adalah planet Bumi-super kedua dalam zona layak huni kurcaci merah yang ditemukan selama survei HARPS, setelah Gliese 581d diumumkan pada tahun 2007 dan dikonfirmasi pada tahun 2009.
“Kini kita tahu bahwa terdapat banyak Bumi-super di sekitar bintang kurcaci merah terdekat yang harus kita identifikasi lebih lanjut dengan menggunakan instrumen HARPS maupun instrumen masa depan. Beberapa planet seperti ini diperkirakan akan melintas di depan bintang induknya – ini akan membuka kemungkinan yang menarik dalam mempelajari atmosfer planet tersebut dan mencari tanda-tanda kehidupan,” simpul Xavier Delfosse, anggota tim riset(eso1210)

Sumber : http://www.faktailmiah.com/

Penemuan Fosil Kaki ‘Lucy’ Hidup Berdampingan dengan Spesies Nenek Moyang Manusia yang Berbeda

Tim ilmuwan telah mengumumkan penemuan sebuah kaki parsial berusia 3,4 juta tahun dari area Woranso-Mille di kawasan Afar, Ethiopia. Fosil kaki ini tidak termasuk ke dalam anggota spesies “Lucy”, Australopithecus afarensis, yang terkenal sebagai nenek moyang manusia awal. Penelitian pada spesimen baru ini menunjukkan bahwa lebih dari satu spesies nenek moyang manusia awal telah ada pada masa antara 3 dan 4 juta tahun yang lalu, di mana masing-masing dari mereka memiliki metode penggerak yang berbeda. Analisis ini akan dipublikasikan dalam jurnal Nature, edisi 29 Maret 2012. Kaki parsial ini ditemukan pada Februari 2009 di sebuah daerah yang dikenal secara lokal sebagai Burtele. “Kaki parsial Burtele secara jelas menunjukkan bahwa pada masa 3,4 juta tahun yang lalu, spesies Lucy, yang berjalan tegak dengan dua kaki, bukanlah satu-satunya spesies hominin yang hidup di wilayah Ethiopia ini,” kata penulis utama dan pemimpin proyek, Dr. Yohannes Haile-Selassie, seorang kurator antropologi fisika di Museum Sejarah Alam The Cleveland. “Spesies Lucy hidup di masa yang bersamaan dengan kerabat dekat yang lebih mahir memanjat pohon, seperti halnya spesies Ardi, Ardipithecus ramidus, yang hidup 4,4 juta tahun yang lalu.”

Metatarsal keempat dari kaki kanan parsial Burtele setelah temuan ini berada di tangan peneliti Stephanie Melillo. (Kredit: Museum Sejarah Alam The Cleveland) Kaki parsial ini merupakan bukti pertama keberadaan - setidaknya - dua spesies pra-manusia dengan modus penggerak yang berbeda-beda namun secara bersamaan hidup di Afrika Timur sekitar 3,4 juta tahun yang lalu. Ibu jari kaki pada spesies Lucy selaras dengan empat jari kaki lainnya sehingga bisa berjalan tegak layaknya bipedal, sedangkan kaki Burtele memiliki jempol kaki yang posisinya berlawanan seperti yang dimiliki Ardi sebelumnya. “Penemuan ini cukup mengejutkan,” kata rekan penulis dalam studi, Dr. Bruce Latimer dari Universitas Case Western Reserve. “Elemen-elemen fosil ini mewakili tulang yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Cengkraman jempol kakinya bisa bergerak dari sisi ke sisi lain, namun tidak ada ekspansi pada ujung atas sendi yang memungkinkan berbagai gerakan tambahan yang diperlukan untuk mendorong dari tanah agar bisa berjalan tegak. Individu ini cenderung memiliki gaya berjalan yang agak canggung ketika berada di darat.” Pemandangan panoramik bagian barat laut daerah penelitian di Woranso-Mille. (Kredit: Museum Sejarah Alam The Cleveland) Kaki parsial ini belum ditetapkan sebagai spesies tertentu karena kurangnya elemen tengkorak dan gigi yang terkait. “Penanggalan radioaktif menunjukkan bahwa fosil-fosil yang berada dalam lapisan batu pasir memiliki usia yang lebih muda dari 3,46 juta tahun,” kata rekan penulis Dr. Beverly Saylor dari Universitas Case Western Reserve. “Fosil-fosil ikan, buaya dan kura-kura yang berada di dekatnya, serta karakteristik fisik dan kimia sedimen menunjukkan lingkungannya merupakan sebuah mosaik saluran sungai dan delta yang berdekatan dengan hutan terbuka pepohonan dan semak-semak,” kata Saylor. “Ini sesuai dengan fosil, yang secara tegas menunjukkan bahwa suatu hominin beradaptasi untuk tinggal di pepohonan, pada masa yang sama di saat ‘Lucy’ hidup di darat.”

Sumber : http://www.faktailmiah.com/

Linkwithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...